Selasa, 19 Juni 2018

SUJUDNYA MATAHARI KETIKA TERBENAM BUKTI BAHWA BULAN PUNYA CAHAYA SENDIRI


Dari Abu Dzar bahwa pada suatu hari Nabi [] pernah bersabda,

“Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?”

Mereka berkata,

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?”

Beliau bersabda,

“Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia tunduk bersujud. Dia tetap senantiasa seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu diapun bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang diingkari (aneh) sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya, ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.”

Rasulullah [
] bersabda (yang artinya),

“Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang terhadap dirinya ketika jiwa tersebut belum beriman sebelumnya atau dalam masa imannya tersebut dia belum mengusahakan suatu kebaikan sedikitpun.”
https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f49/1/16/1f4da.png?_nc_eui2=AeHps1GMqyl-UeQ742XV7LL2WWKxZL5UAEUa0S7G7vRCtfQ_hGB50zDFnmwJySHx95f-C_Z9EMTeAv3eo1c-HHt63saxdGQw4znwtY98rlNpFw📚[Hadits ini dishahihkan Asy-Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami': 84][ Diriwayatkan oleh Bukhari: 4802, 3199, 7424, 7433, Muslim: 159 -dan ini lafazhnya, Ath-Thayyalisi dalam Musnadnya: 460, Ahmad dalam Musnadnya: 5/145, 152, 165, 177, Abu Dawud: 4002, Tirmidzi: 3227, Nasa’i dalam Sunan Kubra: 11430, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah: 4292, 4293, dan lain sebagainya. Seluruhnya dari jalur Ibrahim bin Yazid at-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar.]
]



📝 BUKTI BULAN MEMILIKI CAHAYA SENDIRI BUKAN PANTULAN DARI SINAR MATAHARI
Hadits diatas sebenarnya merupakan dalil bahwa Allah menjadikan bulan memiliki cahaya sendiri bukan pantulan dari sinar matahari, dan ini yang diyakini oleh para shahabat radhiallahu ‘anhum waktu itu.
Para shahabat tidak bertanya kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam ketika Rasulullah menceritakan berita diatas “ya Rasulullah kalau matahari ketika terbenam dia menuju dibawah ‘arsy untuk bersujud pada Allah lalu bagaimana bulan bercahaya?” kita sama sekali tidak menemukan pertanyaan tersebut dari shahabat karena para shahabat memahami kalau bulan memiliki cahaya sendiri bukan pantulan dari sinar matahari.
ada yang berpendapat para sahabat tidak menanyakan itu karena para sahabat tidak bertanya dalam masalah aqidah.
Oke saya setuju bertanya dalam masalah aqidah itu dilarang tapi mengapa orang² mutaakhirin malah menta’wil hadits ini, menta’wil hadits ini agar sesuai dengan ilmu pengetahuan yg mereka pahami, mereka memahami bahwa cahaya bulan itu merupakan pantulan dari sinar matahari dan mereka memahami kalau gerhana bulan itu terjadi karena bulan masuk bayang² bumi.
Mungkin ada sebagian menyangkal “saya tidak menta’wil hadits ini” kalau tidak menta’wil kenapa meyakini kalau cahaya bulan itu pantulan dari sinar matahari? Bagaimana matahari bisa memberikan sinar pada bulan sedangkan matahari ketika terbenam dia menuju di bawah ‘arsy untuk bersujud pada Allah yang jaraknya dari bumi 500 (limaratus) tahun perjalanan (dengan unta) dikali 7 (tujuh) karena diatas bumi sebelum ‘arsy masih ada 7 lapis langit yang jarak tiap lapisnya 500 tahun perjalanan.
Diantara ta’wil mereka adalah bahwa bersujud dibawah ‘arsy maksudnya mengorbit berotasi mengelilingi bumi dibawah langit pertama karena langit pertama juga berada dibawah ‘arsy.
Saya pernah bertanya pada ta’wilan ini “apakah yang mengorbit berotasi mengelilingi bumi cuman matahari saja? Bulan dan bintang² tidak berotasi mengelilingi bumi?”. Mereka jawab “ya bulan juga, bintang² juga”. Saya tanya lagi “adakah berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa bulan juga bintang² ketika terbenam juga bersujud dibawah ‘arsy?”. Mereka gk bisa jawab
Sujud dibawah ‘arsy ketika terbenam hanya dilakukan oleh matahari tidak dilakukan oleh benda langit lainnya jadi tidak pantas dita’wilkan bahwa sujudnya matahari dibawah ‘arsy dengan berotasi mengelilingi bumi.
Hadits ini sebenarnya gk aneh ketika dipahami oleh para sahabat tapi menjadi aneh dipahami umat islam ketika teori heliosentrik merasuk dalam pemahaman umat islam,
ketika paham bahwa matahari sebagai pusat alam semesta, bumi dan planet lainnya mengelilingi matahari, bumi akan beku tanpa matahari, makhluk hidup akan mati tanpa matahari, bulan tidak bisa bercahaya tanpa matahari, hujan tidak bisa turun tanpa matahari, ketika paham seperti ini masuk dalam umat islam hadits diatas menjadi sangat aneh.
Wallahu a’lam
KUFURNYA TEORI HELIOSENTRIS

Bismillahirrahmanirrahim
Kenapa ya setiap saya membahas tentang rancunya teori HELIOSENTRIS orang-orang yang berpaham bumi bola jaman sekarang banyak yang menyangkal, saya dulu menduga paham bumi bola itu akibat pembenaran dari teori HELIOSENTRIS, saya tidak akan membahas ulama-ulama dahulu yang berpendapat bumi bola, karena mereka semuanya sepakat tentang kufurnya teori HELIOSENTRIS, yang kita bahas sekarang adalah dalil-dalil dan juga fatwa-fatwa ulama yang menentang paham HELIOSENTRIS
FATWA-FATWA ULAMA TENTANG KUFURNYA HELIOSENTRIS

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
[ Pertanyaan ]
Apa hukum orang yang mengatakan bahwa matahari beredar/bergerak?

[ Jawaban ]
“Matahari beredar, Matahari berjalan. Apabila yang dimaksud dengan “beredar” adalah berjalan, maka tidak mengapa, insya Allah.

() Namun yang berbahaya adalah menyatakan bahwa Matahari tetap (tidak bergerak) dan Bumi beredar mengelilingi Matahari!! Ini adalah kekufuran.

~ Karena ucapan tersebut mendustakan Kitabullah, mendustakan Allah, mendustakan rasul-Nya, dan mendustakan kitab-Nya.

Teori ini telah mati. Teori ini -sebagaimana aku baca-  ada sejak abad kedelapan belas.
~ Sebagian orang mengatakan -sebagai bentuk ejekan terhadap pertanyaan seperti itu (yaitu Matahari diam, pen)- bahwa “Matahari yang diam itu Matahari pada abad kedelapan belas. Adapun Matahari abad kedua puluh, maka dia berjalan! (mengelilingi Galaxy)”
.
Ilmu telah menetapkan -walhamdulillah- bahwa Matahari bergerak (mengelilingi bumi). Ini termasuk mukjizat al-Qur’an. Allah berfirman (artinya):
Matahari berjalan (mengelilingi bumi) di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan al-‘Aziz al-‘Alim.” [QS. Yasin 38]
.
https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f49/1/16/1f4da.png?_nc_eui2=AeHps1GMqyl-UeQ742XV7LL2WWKxZL5UAEUa0S7G7vRCtfQ_hGB50zDFnmwJySHx95f-C_Z9EMTeAv3eo1c-HHt63saxdGQw4znwtY98rlNpFw📚[Dari tanya jawab muhadharah “Fadhl al-‘Ilmi wa Ahlihi”. Lihat kitab “Marhaban Ya Thalibal ‘Ilmi”, hal. 361]


 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan -hafizhahullah- berkata:
Matahari adalah sebuah planet (Bintang Pengembara) yang besar yang telah dikenal. Demikian juga bulan, termasuk diantara planet-planet yang jumlahnya tujuh yang beredar (di garis orbitnya).

Keduanya (matahari dan bulan) berjalan dan berputar mengelilingi bumi, sedangkan bumi bersifat tetap (statis, tidak beredar). Allah ta'ala menjadikannya tetap. Yaitu tetap (di tempatnya) demi kemaslahatan para hamba. Matahari dan bintang-bintang semuanya mengelilingi bumi.

Hal ini berbeda dengan yang dikatakan oleh orang-orang yang suka mengada-ada di masa kini yang mengaku memiliki ilmu pengetahuan.

Mereka mengatakan: “Sesungguhnya matahari memiliki posisi tetap, sedangkan bumi mengelilinginya.”

Pernyataan ini bertolak belakang dengan yang disebutkan di dalam al-Qur'an, (Allah ta'ala) berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا

Dan matahari berjalan di tempat peredaran (garis orbit) nya.” [Surat Yaasiin :38]

~ Dan mereka mengatakan: “Matahari tetap. Yaa subhaanallah!”

📚[Sumber: Syarhul-Ushuul ats-Tsalaatsah / Silsilah Syarhir-rasaa'il, Jilid 1 hal. 87]

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: “Apakah Matahari berputar mengelilingi bumi?”.
Jawaban.
“Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut.

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim akan hujahnya terhadap yang membantahnya tentang Rabb.

بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” [Al Baqarah/2 : 258]

Maka keadaan keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dhahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.

2. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga tentang Ibrahim.

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'” [Al-An’am/6 : 78]

Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”.

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka berada disebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” [Al-Kahfi/18 : 17]

Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Dia berkata: “gua mereka condong darinya(matahari)”. Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan dilalah firmanNya “(condong) dan menjauhi mereka)”.

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

لَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang,matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al-Anbiya’/21 : 33]

Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata:”Berputar dalam suatu garis peredaran seperti alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.

5. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,” [Al-A’raf/7 : 54]

Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.

6. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang banar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Az Zumar/39 : 5]

FirmanNya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berkata: “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”. Dan firmanNya: “matahari dan bulan, semuanya berjalan”, menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.
7. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ﴿١﴾ وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengirinya,” [Asy-Syam/91 : 1-2]

Makna (mengiringinya) adalah datang setelahnya. dan itu dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi. Seandainya bumi yang berputar mengeliligi keduanya tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bumi mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengeliling bulan, karena matahari lebih tinggi dari pada bulan. Dan untuk menyimpulan ayat ini membutuhkan pengamatan.

8. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ﴿٣٧﴾وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴿٣٨﴾وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴿٣٩﴾لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua. Tidaklah mugkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaasiin/36 : 37-40]

Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu). Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu bukannya untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan malam dan siang.

9. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepada Abu Dzar Radhiallahu anhu dan matahari telah terbenam.

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا

Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
 “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?”
Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?”
Beliau bersabda,
“Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya. “
[Muttafaq ‘alaih] [Dikeluarkan oleh Bukhari, Kitab Bad’ul Khalqi, bab shifat asy Syam wal Qamar : 3199, dan Muslim, kitab Al Iman, bab Bayan az Zaman al Ladzi la yuqbal fihil Iman : 159]
PerkataanNya: “Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbitnya” sangatlah jelas sekali bahwa dia (matahari) itulah yang berputar mengelilingi bumi dengan perputarannya itu terjadinya terbit dan terbenam.
10. Hadits-hadits yang banyak tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka itu jelas tentang terjadinya hal itu dari matahari tidak kepada bumi.”
Boleh jadi disana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup tentang apa yang saya maksudkan. Wallahu Muwaffiq.”
[Disalin dari Majmu Fatawa Arkanul Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]

Berkata Imam Abdul Qohir al-Baghdadi al-Isfiroyini rahimahullah: “Ahlu sunnah sepakat atas tetap dan tenangnya bumi, dan bahwasanya bumi itu hanya bergerak kalau terjadi sesuatu misalnya gempa atau lainnya.”

Berkata Imam Ibnu Hazm rahimahullah: “Terdapat sebuah dalil yang paten dan bisa langsung disaksikan dengan panca indera bahwa matahari mengelilingi bumi dari timur ke barat kemudian dari barat ke timur.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:
Siapapun yang berada di bumi lalu melihat keadaan matahari saat terbit, saat berada di tengah-tengah, juga saat tenggelam. Di tiga waktu ini matahari berada pada kejauhan yang sama dan juga dalam satu bentuk, maka dia akan mengetahui bahwa matahari itu beredar dalam sebuah garis edar yang berbentuk bulat.”
Beliau juga berkata:”Siang dan malam itu terjadi dengan adanya matahari.”

Berkata Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah:
”Kemudian perhatikan hikmah dari terbitnya matahari pada alam semesta, bagaimana Allah menentukannya, seandainya matahari itu hanya terbit di satu tempat di langit lalu berhenti dan tidak bergerak, maka sinarnya tidak akan sampai ke banyak arah, karena bayangan salah satu bagian bumi yang bulat akan menghalangi bagian lainnya, maka bagian yang tidak terbit matahari di situ akan menjadi malam selamanya, dan bagian yang matahari terbit akan siang selamanya, maka keduanya akan binasa.
Dari sinilah maka hikmah Allah menuntut agar matahari itu terbit saat pagi hari dari timur kemudian terbit bagi daerah yang sebelah barat dan begitu seterusnya matahari selalu bersinar dan akan menyinari setiap bagian bumi sehingga dia menuju ke arah barat, dan akan menyinari bagian yang tadinya masih gelap saat pagi hari, dengan ini maka terjadilah pergantian malam dan siang yang dengannya maka bisa teraturlah kemaslahatan hidup manusia.”

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:
“Maksud dari keterangan (hadits Shahih Bukhari) ini adalah menjelaskan bahwa matahari beredar setiap hari dan setiap malam. Hal ini berbeda dengan apa yang diklaim oleh para astronom bahwa matahari itu menempel di garis orbit dan hal ini berkonsekuensi bahwa yang beredar adalah garis orbitnya, sedangkan zhohir hadits ini bahwa mataharilah yang beredar dan bergerak. Dan semisal dengan ini adalah firman Allah subhanahu wata’ala: “Semuanya beredar pada garis orbitnya.”

Berkata Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:
”Telah tersebar pada zaman ini di kalangan para penulis dan pengajar bahwasanya bumi itu berputar sedangkan matahari itu tetap, dan pendapat ini diikuti oleh banyak orang, maka banyak sekali pertanyaan. Seputar masalah ini…
Maka saya katakan: Al-Quran dan as-Sunnah serta kesepakatan para ulama dan realita yang ada menunjukan bahwa matahari itu beredar di garis edarnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala sedangkan bumi tetap tidak bergerak, yang mana Allah menyiapkan sebagai tempat tinggal dan Allah memantapkan dengan gunung-gunung agar tidak bergerak bersama mereka.”

Berkata Syaikh al-Utsaimin rahimahullah:
”Adapun pendapat kami tentang peredaran matahari mengelilingi bumi yang dengannya akan terjadi perubahan siang dan malam, maka kami berpegang dengan zhohir dari nash al-Kitab dan as-Sunnah bahwasanya matahari yang bergerak mengelilingi bumi yang dengannya terjadi pergeseran waktu siang dengan malam. Sehingga ada dalil yang qoth’i yang bisa dijadikan hujjah untuk bisa memalingkan dhohir nash al-Kitab dan as-Sunnah, dan manakah dalil itu?”

Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah menulis risalah ‘Petir Yang Menyambar Atas Pengikut Pendapat Tatasurya Model Baru’, yang berisi pembelaan terhadap Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sekaligus bantahan terhadap Syaikh Muhammad Mahmud ash-Showwaf yang menyatakan bumi mengelilingi matahari.

Syaikh Abdullah ad-Duwaisy rahimahullah:
”Asal pendapat bumi mengelilingi matahari diambil dari Phytagoras seorang filsuf Yunani, dan ini adalah pendapat yang bathil yang sangat diketahui kebathilannya bagi orang yang hatinya diberi nur (cahaya) oleh Allah subhanahu wata’ala.
Inilah yang ditetapkan oleh para ulama, dan saya tidak mengetahui ada seorang imam dari kalangan salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) yang menyelisihinya.”

Syaikh Abdul Karim bin Shalih al-Humaid rahimahullah menulis kitab ‘Petunjuk Bagi Orang yang Bingung Tentang Masalah Peredaran Matahari dan Bumi’. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang sangat kuat yang disampaikan secara gamblang.

DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN & AS-SUNNAH

1. BUMI DIAM TIDAK BERGERAK
DARI AL-QUR’AN
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”[QS. Fathir:41]

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ﴿٢٥﴾

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).”[QS. Ar Ruum:25]

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap…”[QS. Al Mu’min:64]

أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ﴿٦١﴾

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”[QS. An Naml:61]

Ayat ini menunjukkan bumi tidak bergerak, karena seandainya bumi ini bergerak mengelilingi matahari, berarti ada pergeseran, maka bertentangan dengan ayat ini.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : maksudnya adalah diam, tenang, tetap tidak bergerak serta tidak membuat goncangan penghuninya, karena tidak mungkin bisa dibuat hidup dengan baik…”
Berkata Imam Baghawi rahimahullah: tidak bergerak bersama penghuni
Berkata Imam Qurthubi rahimahullah: gunung-gunung bisa menahan dan mencegah bumi dari bergerak.”Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴿١٥﴾

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,”[QS. An-Nahl:15]

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ﴿٣١﴾

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.”[QS. Al-Anbiya’:31]

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu…”[QS. Luqman:10]

Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:”Maksudnya Allah menancapkan di bumi gunung-gunung yang tangguh agar bumi itu tidak bergerak.”

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا

“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya…”[QS. Fushshilat:10]

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ

“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh…”[QS. Qaaf:7]

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا﴿٦﴾
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا﴿٧﴾

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,”[QS. An-Naba’:6-7]

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: ”bumi itu ditundukan untuk makhluk-makhluk dalam keadaan tenang, tetap dan tidak bergerak.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴿١٠﴾

“Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk ”[QS. Az-Zukhruf:10]

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ﴿٦٥﴾

Apakah Kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.[QS. Al-Hajj:65]

Dari SUNNAH
Berdasarkan dalil:

Dari Sofyan bin ‘Assal al-Murodi Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah menjadikan sebuah 
pintu taubat di sebelah barat…pintu itu akan ditutup sehingga matahari akan terbit dari arahnya”[HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani]

Seandainya bumi berputar maka berarti arah pintu itu akan berubah-ubah. Dan ini jelas bertentangan dengan nash hadits.

2. MATAHARI MENGELILINGI BUMI
DALIL AL-QUR’AN
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ
“…Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur , lalu terdiamlah orang kafir itu…”[QS. Al Baqarah:258]

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ﴿٧٨﴾

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”[QS. Al An’am:78]

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri…”[QS. Al-Kahfi:17]

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴿٣٣﴾

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [QS. Al-Anbiya’:33]

يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا

“…Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…”[QS. Al A’raf:54]

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ﴿٥﴾

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”[QS. Az-Zumar:5]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا﴿١﴾
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا﴿٢﴾

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,”[QS. Asy-Syams:1-2]
Dari ayat-ayat ini sudah jelas menunjuk bahwa matahari lah yang bergerak mengelilingi bumi. Seandainya bumi yang berotasi, niscaya Allah ta’ala tidak mengatakan bahwa matahari yang terbit.
Allah menjadikan gerakan terbit dan terbenam itu oleh matahari. Allah Ta’ala menjadikan bahwa yang terbit, condong, tenggelam dan menjauhi itu semuanya dilakukan oleh matahari, seandainya bukan matahari yang bergerak niscaya tidak akan disandarkan semua perbuatan tersebut kepada matahari.
Berkata Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah:” Di ayat Allah menjadikan malam mengikuti siang, sedangkan yang mencari dan mengikuti itu pasti menyusul di belakangnya, dan diketahui bersama bahwa malam dan siang itu mengikuti peredaran matahari.’

DALIL AS-SUNNAH:
Dari Abu Dzar bahwa pada suatu hari Nabi [] pernah bersabda,

“Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?”

Mereka berkata,

“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?”

Beliau bersabda,

“Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia tunduk bersujud. Dia tetap senantiasa seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu diapun bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang diingkari (aneh) sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya, ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.”

Rasulullah [
] bersabda (yang artinya),

“Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang terhadap dirinya ketika jiwa tersebut belum beriman sebelumnya atau dalam masa imannya tersebut dia belum mengusahakan suatu kebaikan sedikitpun.”

https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f49/1/16/1f4da.png?_nc_eui2=AeHps1GMqyl-UeQ742XV7LL2WWKxZL5UAEUa0S7G7vRCtfQ_hGB50zDFnmwJySHx95f-C_Z9EMTeAv3eo1c-HHt63saxdGQw4znwtY98rlNpFw📚[Hadits ini dishahihkan Asy-Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami': 84][ Diriwayatkan oleh Bukhari: 4802, 3199, 7424, 7433, Muslim: 159 -dan ini lafazhnya, Ath-Thayyalisi dalam Musnadnya: 460, Ahmad dalam Musnadnya: 5/145, 152, 165, 177, Abu Dawud: 4002, Tirmidzi: 3227, Nasa’i dalam Sunan Kubra: 11430, Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah: 4292, 4293, dan lain sebagainya. Seluruhnya dari jalur Ibrahim bin Yazid at-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar.]

NB: Kami sebutkan hal ini sebagai tambahan faedah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama ketika mereka berdalil dengan hadits abu dzar tersebut sebagai bukti/dalil bahwa matahari mengelilingi bumi, diantara yang menyebutkannya:
- [1] Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal 16. Demikian juga dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413H, (syamilah).
- [2] Asy-Syaikh Bin Baz dalam Majmu Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, Barakallahu fykum

Segi pengambilan hadits ini sangat jelas, bahwa Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam menyandarkan pergi, terbit, beredar kepada matahari, bukan kepada bumi, sedangkan kita semua mengetahui bahwa Allah Pencipta langit dan bumi lebih mengetahui tentang makhluk-Nya, daripada makhluknya, siapapun dia.

Dar Abu Huraihah radiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam bersabda: ”Setiap persendian manusia itu harus disedekahi setiap hari setiap kali terbit matahari…”[HR. Bukhari, Muslim]

Dari hadits ini juga Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam menyandarkan terbit pada matahari, seandainya munculnya matahari itu bukan karena gerakan matahari niscaya Rasulullah shallallaahu’ alaihi wasallam akan menyandarkan munculnya matahari itu dengan gerakan rotasi bumi.
Demikianlah kumpulan dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits serta fatwa para Ulama yang menyatakan bahwa bumi ini diam, matahari dan bulan yang mengelilingi bumi.

Banyak kaum bumi bulat jaman sekarang yang sensitif ketika dikatakan pada mereka bahwa keyakinan bumi mengelilingi matahari adalah keyakinan KUFUR.
Banyak  dari mereka yang menyandarkan pendapatnya kepada Imam Ibni Hazm rahimahullah, padahal Imam Ibnu Hazm sendiri  meyakini bahwa bumi ini diam dan matahari mengelilingi bumi, beliau menukil pendapatnya itu pada firman Allah

 Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (az-Zumar:5)

Dalam ayat tersebut imam Ibnu Hazm mengambil kalimat yukawwiru (يكور ) yang bermakna menggulung (melilit) seperti menggulung sorban, jadi perputaran siang dan malam, matahari dan bulan berjalan berputar seperti menggulung sorban.

Dan kalimat ini yang diingkari oleh paham bumi bulat jaman sekarang, mereka beropini kalau bumi itu datar seharusnya perjalanan bumi dan bulan itu nikung (berbelok ketika terbit dan berbelok ketika terbenam)?

Justru surat az-Zumar ayat 5 ini membuktikan bahwa perjalanan matagari ataubun bulan itu berputar (menikung keutara) ketika terbenam

Perhatikan video berikut sebagai bukti pembenaran firman Allah diatas




Wallahu a'lam